Xiaomi Corporation resmi memulai pengiriman perdana unit Xiaomi SU7 Ultra untuk pasar global pada Rabu (22/4) di Beijing. CEO Xiaomi, Lei Jun, mengonfirmasi bahwa varian tertinggi dari lini kendaraan listrik pertama mereka ini telah mendapatkan lebih dari 50.000 pesanan dalam 24 jam pertama sejak pembukaan keran pemesanan internasional. Kendaraan ini mengusung teknologi tiga motor listrik yang mampu menghasilkan tenaga maksimal hingga 1.548 tenaga kuda.

Di sirkuit Nürburgring, Jerman, SU7 Ultra mencatatkan waktu putaran 6 menit 46,87 detik, menjadikannya salah satu sedan empat pintu tercepat di dunia. Kecepatan puncak mobil ini dibatasi secara elektronik pada angka 350 kilometer per jam dengan akselerasi 0-100 kilometer per jam hanya dalam waktu 1,98 detik. Pencapaian ini menempatkan Xiaomi secara langsung sebagai kompetitor utama Porsche Taycan Turbo GT dan Tesla Model S Plaid.

Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan lonjakan penjualan EV sebesar 42 persen pada kuartal pertama 2026. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyebutkan bahwa kehadiran merek-merek baru dengan teknologi baterai solid-state mulai mengubah preferensi konsumen. Hal ini didukung oleh perluasan jaringan pengisian daya cepat (SPKLU) yang kini mencapai 3.500 titik di seluruh wilayah Jawa dan Bali.

Menanggapi dinamika global, BYD Indonesia juga mengumumkan percepatan pembangunan fasilitas manufaktur mereka di Subang, Jawa Barat, yang kini mencapai tahap 85 persen. Investasi senilai 1,3 miliar dolar AS tersebut diproyeksikan mulai memproduksi sel baterai secara mandiri pada Agustus 2026. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan harga jual kendaraan listrik di pasar lokal hingga 15 persen melalui optimalisasi rantai pasok dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa integrasi industri nikel dari hulu ke hilir menjadi faktor penentu daya saing Indonesia di pasar EV global. Pemerintah menargetkan produksi 600.000 unit mobil listrik dalam negeri pada akhir tahun 2026 guna mengejar ambisi menjadi pusat produksi otomotif hijau di Asia Tenggara. Kebijakan insentif PPN DTP 10 persen juga dipastikan berlanjut untuk model dengan tingkat komponen dalam negeri di atas 40 persen.